Matematika Jadi Sorotan Besar di Dunia Pendidikan
Oleh Mr Angga
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 akhirnya resmi diumumkan oleh Kemendikdasmen. Dan jujur Rek…setelah melihat data sebaran nilainya, ada banyak hal yang menurutku perlu jadi perhatian serius dunia pendidikan Indonesia.
Karena dari data terbaru ini terlihat jelas:
Kemampuan literasi siswa Indonesia masih lebih baik dibanding kemampuan numerasi dan matematika.
Dan yang paling menarik…mayoritas siswa ternyata masih berada di kategori:
“Memadai”
Apa Itu Sebaran Kategori Nilai TKA?
Dalam hasil TKA 2026, nilai siswa dibagi menjadi beberapa kategori:
- Kurang (<50)
- Memadai (50–76,67)
- Baik (≥76,67)
- Baik–Istimewa (≥95)
Kategori ini digunakan untuk melihat gambaran kemampuan akademik siswa secara nasional.
Dan dari sinilah kita bisa membaca :
- kondisi pendidikan,
- kemampuan siswa,
- sekaligus tantangan pembelajaran di Indonesia.
Bahasa Indonesia Masih Jadi Mata Pelajaran Terkuat
Dari data resmi Kemendikdasmen, capaian Bahasa Indonesia untuk SD dan SMP ternyata relatif lebih baik dibanding Matematika.
Jenjang SD/MI Sederajat
- Memadai: 49,16%
- Baik: 22,67%
- Baik–Istimewa: 0,59%
Jenjang SMP/MTs Sederajat
- Memadai: 51,21%
- Baik: 22,97%
- Baik–Istimewa: 0,57%
Artinya…
lebih dari separuh siswa Indonesia berada di kategori “Memadai” untuk Bahasa Indonesia.
Menurutku ini cukup positif.
Karena kemampuan literasi memang mulai menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Tapi Matematika Jadi Alarm Besar
Nah bagian ini yang cukup bikin miris 😅
Untuk mata pelajaran Matematika, persentase siswa kategori tinggi ternyata jauh lebih rendah.
Jenjang SD/MI Sederajat
- Memadai: 60,64%
- Baik: 18,87%
- Baik–Istimewa: 0,07%
Jenjang SMP/MTs Sederajat
- Memadai: 67,06%
- Baik: 9,67%
- Baik–Istimewa: 0,03%
Dan ini artinya:
siswa kategori “Baik–Istimewa” di Matematika bahkan tidak sampai 1%. 😮
Kemendikdasmen sendiri menyebut hasil ini menjadi sinyal penting bahwa kemampuan:
- berpikir logis,
- penalaran matematis,
- dan pemecahan masalah
masih perlu diperkuat dalam pembelajaran sehari-hari.
Kenapa Matematika Selalu Jadi Momok?
Menurutku masalah matematika di Indonesia itu bukan sekadar soal rumus.
Tapi soal cara belajar.
Karena realitanya masih banyak siswa yang:
- menghafal tanpa paham konsep,
- takut salah,
- dan menganggap matematika sebagai pelajaran menakutkan.
Padahal numerasi itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sistem Pembelajaran Kita Masih Terlalu Fokus Nilai
Ini mungkin agak kritis ya Rek 😅
Tapi menurutku salah satu penyebab siswa sulit berkembang di numerasi adalah karena pembelajaran sering terlalu fokus:
- mengejar nilai,
- menyelesaikan materi,
- dan latihan soal terus menerus.
Akhirnya siswa:
- hafal cara,
- tapi tidak memahami konsep.
Dan saat soal berubah sedikit…
langsung bingung 😅
Mayoritas Siswa Ada di Level “Memadai”
Kalau dilihat dari keseluruhan data…
kategori “Memadai” mendominasi hampir semua jenjang dan mata pelajaran.
Artinya:
- siswa sebenarnya sudah punya dasar,
- tapi belum sampai tahap penguasaan mendalam.
Menurutku ini penting dipahami.
Karena hasil TKA bukan untuk melabeli siswa pintar atau tidak pintar.
Tapi untuk melihat:
- area yang perlu diperkuat,
- pola pembelajaran,
- dan kondisi pendidikan nyata di lapangan.
Jangan Salah Paham dengan Kategori “Kurang”
Banyak orang tua langsung panik kalau melihat kategori “Kurang”.
Padahal TKA bukan ujian kelulusan.
Kategori ini lebih sebagai:
- evaluasi,
- pemetaan,
- dan refleksi pembelajaran.
Jadi bukan berarti siswa gagal.
Menurutku justru ini bisa menjadi:
titik awal memperbaiki cara belajar siswa.
Guru dan Sekolah Juga Harus Ikut Evaluasi
Menurutku hasil TKA tidak boleh hanya jadi beban siswa.
Karena pendidikan itu tanggung jawab bersama.
Guru dan sekolah juga perlu melihat:
- apakah pembelajaran sudah bermakna?
- apakah siswa benar-benar paham konsep?
- atau hanya menghafal demi nilai?
Karena hasil seperti ini sebenarnya adalah cerminan sistem pembelajaran kita juga.
Teknologi dan AI Bisa Membantu Pembelajaran Numerasi
Jujur saja…
di era sekarang sebenarnya guru punya banyak tools untuk membuat matematika lebih menarik.
Mulai dari:
- game edukasi,
- simulasi interaktif,
- AI pembelajaran,
- sampai quiz gamification.
Masalahnya kadang guru:
- belum sempat belajar,
- kurang pendampingan,
- atau terlalu sibuk administrasi 😅
Padahal kalau dimanfaatkan dengan baik, teknologi bisa membantu siswa lebih memahami konsep.
Pendidikan Indonesia Masih Punya PR Besar
Dari data TKA 2026 ini, menurutku ada satu kesimpulan penting:
pendidikan Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar di bidang numerasi dan pemecahan masalah.
Tapi aku juga percaya:
- kemampuan siswa bisa berkembang,
- guru Indonesia sebenarnya kreatif,
- dan sekolah masih punya peluang besar untuk berubah.
Asalkan pembelajaran tidak hanya fokus:
- mengejar nilai,
- administrasi,
- dan formalitas.
Penutup
Sebaran nilai TKA 2026 memberikan gambaran nyata tentang kondisi pendidikan Indonesia saat ini.
Bahasa Indonesia menunjukkan hasil yang cukup baik.
Tapi Matematika masih menjadi tantangan besar nasional.
Semoga data ini tidak hanya berhenti menjadi laporan.
Tapi benar-benar digunakan untuk:
- memperbaiki pembelajaran,
- membantu guru,
- dan membuat siswa belajar lebih bermakna 🙌
Mr Angga
Edukator & Kreator Digital
🌐 misterangga.my.id

