Menimbang Pro, Kontra, dan Dampak Psikologis di Balik Euforia TKA 2026
Oleh Mr Angga
Beberapa hari setelah hasil TKA 2026 diumumkan, media sosial sekolah mulai ramai.
Ada yang mengunggah:
- 10 besar nilai tertinggi TKA,
- foto siswa peraih nilai tertinggi,
- ranking sekolah,
- bahkan ada yang menampilkan skor lengkap siswa beserta fotonya.
Saya melihat fenomena ini menarik untuk dibahas. Karena di satu sisi, sekolah ingin memberikan apresiasi kepada siswa berprestasi.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan:
Apakah mempublikasikan nilai akademik siswa di media sosial benar-benar langkah yang tepat?
Fenomena yang Semakin Sering Terjadi
Jika beberapa tahun lalu sekolah hanya mengumumkan juara kelas di mading sekolah, kini semuanya berubah.
Media sosial membuat pencapaian siswa dapat dilihat:
- orang tua,
- calon peserta didik,
- masyarakat umum,
- bahkan sekolah lain.
Tidak sedikit sekolah yang mengunggah desain seperti:
🏆 Nilai TKA Tertinggi 2026
🥇 Nama Siswa
📈 Skor TKA
📸 Foto Siswa
Tujuannya jelas:
- memberi penghargaan,
- meningkatkan motivasi,
- sekaligus menunjukkan kualitas sekolah.
Dan jujur saja...
dari sisi branding sekolah, strategi ini memang cukup efektif.
Sisi Positif: Bentuk Apresiasi yang Layak
Mari kita mulai dari sisi positifnya.
Saya percaya bahwa siswa yang telah bekerja keras berhak mendapatkan apresiasi.
Karena di balik nilai tinggi tersebut ada:
- proses belajar,
- disiplin,
- dukungan keluarga,
- dan perjuangan panjang.
Ketika sekolah memberikan ruang apresiasi, siswa akan merasa:
✅ usaha mereka dihargai
✅ sekolah peduli terhadap prestasi
✅ muncul rasa bangga terhadap pencapaian
Dalam psikologi pendidikan, pengakuan positif memang dapat meningkatkan motivasi intrinsik dan rasa percaya diri siswa.
Selama dilakukan secara proporsional, apresiasi adalah hal yang baik.
Sisi Positif untuk Sekolah
Tidak dapat dipungkiri, publikasi prestasi siswa juga memberikan manfaat bagi sekolah.
Beberapa di antaranya:
1. Meningkatkan Citra Sekolah
Orang tua sering melihat:
- prestasi akademik,
- kegiatan sekolah,
- dan capaian siswa
sebelum memilih sekolah.
Postingan prestasi dapat menjadi bukti nyata kualitas pembelajaran.
2. Menumbuhkan Budaya Berprestasi
Ketika siswa melihat teman mereka diapresiasi, sebagian akan termotivasi untuk berkembang.
Bukan untuk bersaing secara tidak sehat.
Tetapi untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
3. Menjadi Dokumentasi Prestasi Sekolah
Media sosial kini menjadi arsip digital sekolah.
Prestasi yang dipublikasikan dapat menjadi rekam jejak yang bermanfaat di masa depan.
Tapi Ada Sisi yang Jarang Dibicarakan
Nah, di sinilah saya mulai sedikit kritis.
Karena yang sering dipublikasikan adalah:
siswa dengan nilai tertinggi.
Sedangkan ribuan siswa lain tidak terlihat.
Pertanyaannya:
Bagaimana perasaan siswa yang nilainya biasa saja?
Atau bahkan berada di kategori "Kurang" dalam hasil TKA?
Dampak Psikologis bagi Siswa yang Tidak Masuk Daftar
Sebagian orang mungkin menganggap:
"Ah, itu biasa."
Padahal belum tentu.
Dalam psikologi pendidikan, perbandingan sosial (social comparison) adalah hal yang sangat kuat.
Ketika seorang siswa terus melihat:
- foto teman,
- skor tinggi,
- ranking,
- pujian publik,
ia bisa mulai berpikir:
"Berarti aku tidak cukup pintar."
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Nilai TKA hanya mengukur sebagian aspek kemampuan akademik.
Bukan keseluruhan potensi manusia.
Nilai TKA Bukan Penentu Masa Depan
Ini yang menurut saya sangat penting disampaikan.
TKA memang penting.
Tapi TKA bukan segalanya.
Karena kehidupan nyata tidak hanya membutuhkan:
- matematika,
- bahasa,
- kemampuan akademik.
Tetapi juga:
- kreativitas,
- komunikasi,
- kepemimpinan,
- empati,
- kerja sama,
- ketahanan mental.
Banyak siswa yang nilainya biasa saja saat sekolah, namun sukses luar biasa ketika dewasa.
Risiko Munculnya Label Akademik
Ketika sekolah terlalu fokus mempublikasikan siswa terbaik, tanpa sadar bisa muncul label:
"anak pintar"
dan
"anak biasa."
Padahal dunia pendidikan modern justru sedang berusaha mengurangi pelabelan semacam ini.
Karena label yang terus menerus diberikan dapat memengaruhi:
- kepercayaan diri,
- motivasi,
- identitas diri siswa.
Bagaimana dengan Privasi Data?
Ini isu yang menurut saya mulai penting.
Karena beberapa sekolah tidak hanya menampilkan:
- foto siswa,
- nama lengkap,
tetapi juga skor detail hasil TKA.
Pertanyaannya:
Apakah siswa dan orang tua sudah memberikan persetujuan?
Karena hasil akademik pada dasarnya termasuk informasi pribadi yang sebaiknya dikelola dengan bijak.
Di era digital, sekali data dipublikasikan:
jejaknya bisa bertahan sangat lama.
Apakah Sekolah Sebaiknya Tidak Memposting Sama Sekali?
Menurut saya bukan begitu.
Saya tidak berada pada posisi yang mengatakan:
"Semua postingan prestasi harus dihentikan."
Karena apresiasi tetap penting.
Yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaiannya.
Alternatif yang Lebih Sehat
Beberapa alternatif yang menurut saya lebih bijak:
Opsi 1
Mengapresiasi tanpa menampilkan skor detail.
Contoh:
🏆 Selamat kepada siswa berprestasi TKA 2026
Tanpa perlu mencantumkan angka secara rinci.
Opsi 2
Mengapresiasi banyak kategori.
Tidak hanya akademik.
Misalnya:
- prestasi akademik,
- kepemimpinan,
- olahraga,
- seni,
- literasi,
- karakter.
Dengan begitu lebih banyak siswa merasa dihargai.
Opsi 3
Fokus pada proses, bukan hanya hasil.
Alih-alih:
"Nilai tertinggi TKA"
Bisa juga:
"Perjalanan belajar siswa menuju hasil terbaik."
Pendekatan ini lebih manusiawi.
Refleksi untuk Dunia Pendidikan Indonesia
Menurut saya, fenomena ini menunjukkan satu hal:
Kita masih sangat fokus pada angka.
Padahal pendidikan seharusnya juga berbicara tentang manusia.
Nilai memang penting.
Prestasi juga penting.
Tetapi kesehatan mental siswa sama pentingnya.
Jangan sampai niat baik memberi apresiasi justru membuat sebagian siswa merasa tertinggal.
Penutup
Sekolah yang memposting foto dan nilai TKA tertinggi sebenarnya memiliki tujuan positif: memberikan apresiasi dan menunjukkan capaian pendidikan.
Namun di balik itu, ada aspek psikologis dan etika yang perlu dipertimbangkan.
Karena setiap siswa memiliki cerita, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda.
Mungkin sudah saatnya kita mulai bertanya:
Apakah pendidikan hanya tentang siapa yang nilainya paling tinggi?
Atau tentang bagaimana setiap anak dapat berkembang menjadi versi terbaik dirinya?
Menurut saya, jawaban kedua jauh lebih penting.
Mr Angga
Edukator & Kreator Digital
🌐 misterangga.my.id

